Posted by: ayusartikayuliarti | July 2, 2009

DEKLARASI CALON PRESIDEN

Pesta demokrasi di Indonesia belum selesai. 8 Juli 2009 mendatang akan menjadi hari yang bersejarah bagi bangsa Indonesia. Pasalnya, akan terpilih seorang pemimpin bangsa untuk masa kerja 2009 – 2014. Penghitungan pemilu Legislatif yang telah lalu memberikan hasil bahwa Partai Demokrat menjadi partai pemenang dalam pemilu tersebut. Disusul oleh Golkar dan PDI-P pada urutan kedua dan ketiga. Kemenangan ketiga partai ini merupakan kunci untuk menjadi orang nomor satu di negara tercinta ini. Partai Demokrat sebagai pemenang utama menjagokan Susilo Bambang Yudhoyono untuk menjadi Presiden pada periode 2009-2014 berdampingan dengan Boediono. Golkar sebagai partai kedua pemenang dalam pemilu legislatif memilih untuk mengunggulkan Jusuf Kalla dengan Wiranto dari Partai Hanura. Pasangan ini yakin akan menjadi rival yang sebanding dengan SBY-Boediono. PDI-P tidak mau kalah untuk mencalonkan tokohnya menjadi calon Presiden. Megawati dicalonkan kembali untuk menjdi Presiden oleh Partai berlambang banteng moncong putih ini. Perdebatan alot terjadi ketika PDI-P berkoalisi dengan Gerindra. Pasalnya Prabowo, dewan penasehat Gerindra, ingin memajukan diri sebagai seorang Presiden. Lobby-lobby politik dilakukan oleh kedua partai yang bervisi dan misi hampir sama ini. Diputuskan akhirnya bahwa Megawati maju sebagai Calon Presiden dan prabowo sebagai ”pendamping hidup” Megawati untuk periode 2009-2014.

Memilih pasangan hidup memang bukanlah hal yang mudah. Jika diamati, berbagai startegi politik dilakukan oleh para politisi untuk dapat mendapatkan pendamping yang terbaik. Lihat saja contohnya ketika SBY memilih calon wakil presidennya. Begitu banyak kontra yang diberikan oleh masyarakat atas terpilihnya Boediono untuk mendampingi SBY.

Institusi Media massa yang tidak pernah lengah akan berita terbaru, menjadi sangat berpengaruh atas terbentuknya citra para kandidat tersebut. Pasalnya tidak semua media massa melihat dan memuat berita secara sama. Ini menjadi penting bagi para kandidat untuk terus berhati-hati dengan tingkah lakunaya dan terus mengupayakan pembentukan citra positif yang sesuai dengan visi misi yang dibawa. Menuju kursi nomor satu di Indoensia bukanlah hal yang mudah. Ini  merupakan proses panjang yang harus dilalui oleh para kandidat.

Moment yang tidak bisa dianggap remeh adalah ketika para kandidat melakukan ”akad nikah” di depan masyarakat Indonesia. Agenda sakral ini harus dipersiapkan dengan sangat matang, agar dapat menarik perhatian masyarakat. Agenda penting ini bisa diibaratkan sebagai sebuah pertunjukan drama, dimana didalamnya terdapat pemain, alur cerita, adegan yang diperankan, dan yang tidak kalah penting adalah sutradara pertunjukan tersebut.

Seperti yang telah diketahui bahwa para ketiga kandidat ini telah melakukan deklarasi politik untuk menyatakan siap maju sebagai pejuan dalam Pemilu presiden 2009. Format yang berbeda ditampilkan oleh ketiga pasang kandidat. SBY-Boediono lebih memilih mendeklarasikan ”pernikahan” mereka dengan acara yang formal, laiknya pidato kemenangan Obama dan Biden. Gedung Sabuga Bandung dengan hiasan mewah dipilih SBY Boediono untuk melakukan deklarasi. Berbagai rangkaian acara formal dan berwibawa di ertunjukan di Gedung sabuga Bandung. Acara dibuat dengan sangat khidmat dan gloria. [1]Berbeda dengan rivalnya, Megawati dan Prabowo lebih memilih mendeklarasikan ”pernikahan” mereka dengan sangat sederhana. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Bantar Gebang, Kota Bekasi, Jawa Barat, Minggu menjadi tempat yang dipih oleh Megawati-Prabowo untuk mendeklarasikan pernikahan politik mereka.[2] Deklarasi pasangan ini dilaksanakan pada tanggal 24 Mei 2009 pada pukul 14:00 s.d. 17:00 wib. Pasangan yang ddidukung oelh Sembilan partai ini memilih untuk melibatkan rakyat kecil dalam pagelaran drama ini. Seperti yang diucapkan oleh Ketua Panitia Pelaksanaan Lokal di Bekasi, bahwa dalam acara deklarasi ini dilibatkan ratusan pedagang makanan tradisional dan kaki lima yang selama ini termarjinalkan. Merka diberi kebebasan berjualan di tenda hiburan rakyat. [3]

Deklarasi ini sangat bernuansa nasionalis, kerakyatan, dan perjuangan. Acara ini dibuka dengan lantunan music rakyat yang dibawakan oleh pengamen jalanan, doa oleh enam pemuka agama, menyanyikan lagu kebangsanaan Indonesia raya, Pembacaan teks Pancasila, Pembacaan Puisi “Karawang-Bekasi” berikut penyerahan bendera merah Putih, dilanjutkan dengan pidato capres dan cawapres, serta prosesi deklarasi rakyat.

Dapat kita perhatikan perbedaan cara kedua kandidat ini dalam mendeklarasikan “perkawinan” mereka masing-masing. Perbedaan pertunjukan ini tidak terlepas dari peranan sutradara pertunjukan drama tersebut – dalam hal ini adalah konsultan politik dan panitia penggarap pelaksanaan. Mengapa hal ini dapat dikatakan sebagai sebuah drama politik? Dalam konsep teori Dramaturgi, Kenneth Duva Burke (May 5, 1897 – November 19, 1993) seorang teoritis literatur Amerika dan filosof memperkenalkan konsep dramatisme sebagai metode untuk memahami fungsi sosial dari bahasa dan drama sebagai pentas simbolik kata dan kehidupan sosial. Tujuan Dramatisme adalah memberikan penjelasan logis untuk memahami motif tindakan manusia, atau kenapa manusia melakukan apa yang mereka lakukan.[4] Pertunjukan deklarasi ini dapat dikatakan sebagai sebuah bentuk lain komunikasi seperti Dramaturgi yang dijelaskan oleh Erving Goffman yang melihat dari sudut pandang Sosiologi mengatakan bahwa drama merupakan pertunjukan yang terjadi di masyarakat untuk memebri kesan yang baik pada masyarakat agar tujuannya tercapai. Ini merupakan salah satu proses komunikasi. Ini dapat dikatakan sebagai bentuk lain dari komunikasi. Kenapa komunikasi? Karena komunikasi sebenarnya adalah alat untuk mencapai tujuan.  Bila dalam komunikasi konvensional manusia berbicara tentang bagaimana memaksimalkan indera verbal dan non-verbal untuk mencapai tujuan akhir komunikasi, agar orang lain mengikuti kemauan kita. Maka dalam dramaturgis, yang diperhitungkan adalah konsep menyeluruh bagaimana kita menghayati peran sehingga dapat memberikan feedback sesuai yang kita mau. Hal inilah yang dilakukan oleh para kandidat untuk membentuk citra positif di masyarakat.

Dramaturgi yang dilakukan oleh para kandidat tidak terlepas dari tengan konsultan politik. Konsultan politik tiap kandidat harus memikirkan bagaimana caranya agar dapat membentuk image positif bagi tiap kandidat. Image tersebut dapat dibentuk mulai dari hal yang terkecil sampai hal besar seperti deklarasi ini. Deklarasi yang dilakukan oleh para kandidat adalah satu kesatuan dari upaya untuk memebntuk image positif. Sebagai contoh, hal kecil yang harus diperhatikan adalah pemilihan warna pakaian, tampilah gaya rambut, gesture para kandidat, materi pidato yang akan disampaikan, pemilihan tempat, dan kemasan agenda acara. Ini merupakan hal-hal yang diharapkan dapat membentuk citra positif bagi kandidat. Sang sutradara, konsultan politik, harus benar-benar cermat dalam menangani hal ini.

Deklarasi yang dilakukan oleh para kandidat dapat dianalisis dengan menggunakan  salah satu konsep dari Dramaturgi yaitu the Pentad. Konsep ini mengandung pengertian mengenai pemahaman audience terhadap aktivitas simbolik. The Pentad menjelaskan menjelaskan pemilihan seseorang terhadap strategi retorika tertentu untuk proses identifikasi dengan audience. Konsep ini terdiri dari the act, yaitu apa yang dilakukan atau diperagakan oleh actor, the scene, yaitu konteks apa yang melingkupi aksi itu, the agent, actor itu sendiri, the agency, alat atau cara yang digunakan, dan the purpose, tujuan yang diharapkan.

Sutradara, konsultan politik, harus benar-benar memahami konsep ini dengan sangat baik. Konsultan politik pasangan Megawati-Prabowo memilih bantar Gebang sebagai the scene dalam pertunjukan dramanya. Mengapa bantar gebang? Hal ini tentu saja dengan tujuan memberitahukan kepada masyarakat bahwa kandidat ini buak merupakan kandidat yang glamour melainkan kandidat yang sangat peduli terhadap rakyat. Konsultan politik juga memberikan arahan tentang bagaimana act yang harus dilakukan oleh the agent, yaitu para kandidat itu sendiri. Pemilihan agency juga harus sangat tepat. Misalnya pemilihan media massa apa yang akan digunakan untuk mempublikasikan deklarasi yang telah disiapkan. Walaupun dalam kenyataannya media massa merupakan institusi yang tidak akan melewati moment-moment penting ini. Hal ini dipersiapkan dengan baik agar tujuan yang diharapkan dapat tercapai.

Selain konsultan poltik yang harus diperhitungkan, media massa juga harus menjadi perhatian. Pasalnya setelah ketiga kandidat melakukan deklarasi politik, media massa mulai melakukan pemberitaan mengenai deklarasi tersebut. Media massa mulai membahas mengenai pagelaran tersebut dengan analisis semiotika. Salah satu contoh adalah, program Apa kabar Indonesia, dimana diundang pakar komunikasi seperti Efendi Ghazali untuk menganalisis pagelaran tersebut melalui teori semiotika. Dapat dikatakan bahwa media massa pun ikut mempengaruhi persepsi masyarakat dalam pembentukan citra positif bagi para kandidat. Kelebihan dan kesalahan yang dilakukan oleh para kandidat akan menjadi pembahasan hangat oleh media massa. Lagi-lagi konsultan politik harus memiliki kemampuan untuk mengatur strategi politik ini.

Dari penjabaran di atas dapat disimpulkan bahwa paket deklarasi yang telah dilakukan dan paket kampanye yang akan dilakukan adalah sebuah drama politik yang dikemas dengan arahan konsultan politik. Pertunjukan ini dilakukan dengan tujuan untuk dapat membentuk citra positif pada masyarakat. pembentukan citra ini pun tidak terlepas dari peranan media massa dalam melakukan pemberitaan. Ini merupakan proses-proses politik yang dilakukan oleh para kandidat dan media massa dalam.


[1] Dikuti dari artikel Mewah, Deklarasi SBY-Berbudi pada situs http://www.nasional.kompas.com

[2] Dikutip dari artikel Masyarakat Menghadiri Deklarasi Megawati prabowo pada situs www.antara.co.id

[3] ibid

[4] Dikutip dari Bahan Kuliah –Dramaturgi pada situs http://www.meiliemma.wordpress.com/2008/01/27/dramaturgi


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: